Archive

Archive for the ‘ARTIKEL’ Category

Modul 01 SPACE SYNTAX : Metodologi dasar space syntax dalam analisis konfigurasi ruang

Morfologi merupakan komponen lingkungan binaan yang muncul sebagai respon atas pertanyaan mengenai proses terbentuknya kota. Salah satu bagian penting dari diskursus mengenai morfologi adalah konsep konfigurasi ruang. Seiring dengan perkembangan teknologi, konsep konfigurasi ruang telah berkembang menjadi teori dan metodologi dalam analisis hubungan ruang. Ben Hillier dan Juliene Hanson (1984) memperkenalkan space syntax sebagai salah satu pendekatan yang efektif dan efisien dalam analisis konfigurasi ruang.

Modul ini membahas konsep dan metodologi dasar space syntax dalam analisis konfigurasi ruang. Pembahasan antara lain mencakup konsep dan teori dasar space syntax, ketiga dimensi space syntax yaitu connectivity, integrity dan intelligibility. Pembahasan mengenai dimensi space syntax ini dilengkapi dengan contoh perhitungan secara manual dan contoh hasil analisis mempergunakan aplikasi Depthmap v.10. Untuk melengkapi pembahasan mengenai konsep ruang dalam space syntax, modul ini dilengkapi teori mengenai axial line dan algoritma pembentuknya.

Modul 01 space syntax – metodologi dasar space syntax REVISI

Software open source ‘Depthmap’ dan modul selengkapnya dapat diperoleh dari website Space Syntax Network.

Categories: ARTIKEL, LABORATORIUM Tags:

GOOD PUBLIC SPACE INDEX, Teori dan Metode

November 10th, 2013 2 comments

ABSTRAK
Pengamatan dan analisis terhadap pengguna dan perilaku pengguna ruang luar dapat
dikembangkan sebagai salah pendekatan dalam kajian ruang publik terutama untuk menilai
respon pengguna ruang terhadap kualitas ruang publik. Carr et al (Carmona et al, 2003:13)
berpendapat bahwa ruang publik yang baik harus memiliki tiga nilai intrinsik yaitu
demokratis, bermakna dan responsif. Carmona et al (2003:124) dan Parkinson (2012:51)
menguraikan bahwa satu aspek penting dalam ruang publik yang demokratis adalah
tersedianya aksesibilitas yang baik. Dengan aksesibilitas yang baik, akan mendorong
pemanfaatan ruang publik oleh pengguna yang beragam. Keberagaman pengguna ini dapat
diukur dari keberagaman gender, usia dan beberapa karakteristik lainnya. Sebagai ruang
yang responsif, ruang publik harus dapat memberi kenyamanan dan keleluasaan bagai
pemanfaatan dan kegiatan yang beragam. Selain hadirnya aktivitas yang beragam (Shaftoe,
2008:140) intensitas pengguna dapat dipergunakan sebagai tolok ukur ruang publik yang
responsif. Pada akhirnya, keberadaan interaksi sosial melalui terbentuknya kelompok
pengguna ruang, intensifnya penggunaan ruang dan adanya aktivitas yang beragam dapat
menjelaskan bagaimana ruang publik bermakna bagi masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Carmona, Heath, Oc Tanner, Tiesdell. 2003. Public places, urban spaces. Architectural
Press.
Carmona M., Magalhaes S., Hammond L. 2008. Public space, the management dimension,
Routledge, Taylor and Francis Group, London and New York.
Hariyadi dan Setiawan. 1995. Arsitektur lingkungan dan perilaku. Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia.
Gehl J. 1987. Life between buildings. Van Nostrand Reinhold Company, New York.
Khan, Ajmal. Methodologi for assessing biodiversity.
Parkinson, John. 2012. Democracy and public space. Oxford University Press.
Mehta V. 2007. A toolkit for performance measures of public space. 43rd ISOCARP
Congress 2007
Shaftoe, Henry. 2008. Convivial urban spaces. Earthscan.
Stangor C. 2004. Social groups in action and interaction. Psychology Press, New York.
Zhang dan Lawson. 2009. Meeting and greeting, activities in public outdoor spaces. Urban
Design International Vol. 14, 4, 207–214, www.palgrave-journals.com/udi/

GOOD PUBLIC SPACE INDEX, Teori dan Metode
GOOD PUBLIC SPACE INDEX, contoh worksheet

Categories: ARTIKEL, LABORATORIUM Tags:

ASSESSMENT OF PUBLIC SPACE QUALITY USING GOOD PUBLIC SPACE INDEX

October 15th, 2013 No comments

ABSTRACT :- Kampong is a form of complex residential area which dominated in Indonesia cities. This kind of residential area usually has mixed use arrangement of parcels that enables the more vibrant public space. Municipality of Malang is one of medieval cities in Indonesia that has kampongs with diverse public space characteristics. Located in a block of sub district of Merjosari, this research tried to explore characteristics of public space in the adjacent local roads and inner part of residential block. From this exploration then could be assessed the public space quality and its relationship with physical features of observed public space. Goals of this research were assessing quality of public space and evaluating the quality in relation to existing physical feature. Valuation of public space quality on this research used the Good Public Space Index (GPSI) concept. Data for this analysis came from observations on day time. Then, the measured GPSI was analyzed using multiple linear regression in relation to build environment components and gain result that of local traffic condition as the main predictor of public space quality.

REFERENCES

Brodin, 2006, ‘Public space : Exploration of a concept’, Western Political Science Association Annual Meeting, Albuquerque, March 16–18, 2006.

Chatterjee & Hadi, 2006, Regression analysis by example, fourth edition, John Willey and Son, Inc, Publication.

Carmona M.,Heath T. Oc T., Tiesdell ST., 2003, Public places, urban spaces: The dimensions of urban design, Architectural press, London.

Carmona M., Magalhaes S., Hammond L., 2008, Public space, the management dimension, Routledge, Taylor and Francis Group, London and New York.

Ijla, Akram M, 2012, ‘Does public space create social capital?’ International journal of sociology and anthropology, volume 4(2), pp. 48-53, February 2012.

Mehta V., 2007, ‘A toolkit for performance measures of public space’, 43rd ISOCARP Congress 2007.
Gehl J, 1987, ‘Life between buildings’, Van Nostrand Reinhold Company, New York.

Sauter & Huettenmoser, 2008, ‘Liveable streets and social inclusion’, Urban Design International (2008) 13, 67-69.

Stangor C., 2004, Social groups in action and interaction, Psychology Press, New York.

Tibbalds F, 2001, Making people – friendly towns, Spon Press, London and New York.

Van Schaick, 2011, Timespace matters, Dissertation thesis of TU Delft, Delft.

Zhang & Lawson, 2009, ‘Meeting and greeting, activities in public outdoor spaces’, Urban Design International Vol. 14, 4, 207–214, www.palgrave-journals.com/udi/

Makalah ini telah dipublikasikan dalam Seminar Internasional CITIES 2013 -ITS, pada tanggal 8 Oktober 2013. Proceding ISBN 978-979-98808-5-7.
For more informations, please visit : http://ubrawijaya.academia.edu/

Makalah in telah dimuat dalam Procedia Volume 135 tahun 2014

ASSESSMENT OF PUBLIC SPACE QUALITY USING GOOD PUBLIC SPACE INDEX

Categories: ARTIKEL Tags:

PAVINGISASI DI KAMPUS BIRU

Berikut ini adalah liputan wawancara mengenai permasalahan “pavingisasi” di UB oleh Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang

http://kavlingsepuluh.blogspot.com/2013/04/pavingisasi-di-kampus-biru-berita.html

Categories: ARTIKEL Tags:

APLIKASI KEARIFAN LOKAL DALAM PENGELOLAAN PERMUKIMAN DESA SECARA BERKELANJUTAN (Studi Kasus : Kasepuhan Ciptagelar, Jawa Barat)

November 28th, 2012 No comments

ABSTRACT: – Rural is an area which has main role in national and regional development. Almost 65% of Indonesian lives in rural and the rest of them in urban areas. This high occupation of rural areas gives a dense labourship in farming, ranches and other food resource sectors in meets the need of urban community and rural itself. As agricultural factor, rural natural environment supplies land and water for sustainable farming meanwhile also supplies save and healthy residential environment which its quality determined by accessibility, service capacity of infrastructure and protection from natural danger. Thus, management and conservation of rural environment begin important to cover national, regional and local development goals. Indonesia is a nation that rich in culture or folkways that supported by local communities inhabit rural areas. The everlasting local community are influenced by their traditions, rituals and religion activities that have undergone as a part of community social process. This folkway relationship then develops an institutional system contributes in managing local community environment. So, it is understandable that local communities inherit local wisdoms about sustainable development model which is evolved from economy, environment and social political aspect. Goal of this paper is exploring and describing local wisdom role of Kasepuhan Ciptagelar as a model of settlement management sustainably. This study applied qualitative method with observation and interview then elaborate it with literature study. Result of this study is application of local wisdom as strategy in managing sustainable rural settlement.
Key words : collective action, community, tradition

Daftar Pustaka
Azam. 2003. Eksistensi Hukum Tanah Dalam Mewujudkan Tertib Hukum Agraria. USU Digital Library.

Budi dan Pulungan. 2010. Potensi Desa Adat Sebagai Institusi Administrasi yang Efektif. Artikel dalam Pusaka.or.id.

Mukhopadhyay, Pranab. 2012. Common Property Resources and Collective Action. Dissemination Paper. Center of Excellence in Environmental Economic. Madras School of Economic. India

Raharju dan Nuryanto. 2007. Ruang Publik dan Ritual pada kampung Kasepuhan Ciptagelar di Kabupaten Sukabumi – Jawa Barat

Rustiadi, et al. 2011. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Crespent Press dan Yayasan Pustaka Obor. Indonesia.

Sadyohutomo, Mulyono. 2008. Manajemen Kota dan Wilayah : Realita dan Tantangan. Penerbit Bumi Aksara, Jakarta. ISBN (10) 979-010-176-7.

Sartini. 2004. Menggali Kearifan Lokal Nusantara : Sebuah Kajian Filsafati. Jurnal Filsafat, Agustus 2004, Jilid 37, Nomor 2.

Steins dan Edwards. 1999. Synthesis: Platforms for Collective Action in Multiple-use Common Pool

Resources. Agriculture and Human Values 16: 309–315, 1999. Kluwer Academic Publishers. Netherlands.

Sugangga. 1999. Peranan Hukum Adat Dalam Pembangunan Hukum Nasional Indonesia. Pidato pengukuhan penerimaan jabatan Guru Besar Madya dalam Ilmu Hukum Perdata pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang 27 Nopember 1999

Sumardjono, et al. 2009. Kajian Kritis Undang-Undang Terkait Penataan Ruang dan Sumber Daya Alam. Deputi Bidang Tata Lingkungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup.

Wetslund, Hans. 2011. Social Capital and Governance for Efficient Water Management. Makalah dalam Water Supply Management System and Social Capital Volume 2, editor : Kobayashi dan Hermana. Department of Environmental Engineering. Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Makalah telah dipublikasikan dalam Seminar Nasional Green Urban Housing Policy Universitas Diponegoro, tanggal 4 September 2012. Proseding ISBN: 978-602-98898-71, Biro Penerbit Planologi UNDIP, Semarang.
For more informations, please visit : http://ubrawijaya.academia.edu/JohannesParlindungan

APLIKASI KEARIFAN LOKAL DALAM PENGELOLAAN PERMUKIMAN DESA SECARA BERKELANJUTAN

Categories: ARTIKEL Tags:

Cultural significance determination as preliminary analysis in preserving urban historical area (Case study on municipality of Blitar, Indonesia)

ABSTRACT: – History is a cultural richness because through history, a nation has strong foundation in future development. Blitar is one of the Indonesia city that has history richness. In the past, this city linked directly with Indonesian independence movements as the home town of Indonesian Independence Proclaimer and as place of PETA rebellions. It is important that the historical value becomes consideration in determining appropriate preservation action for plan further development strategies on an historical area. This research uses 36 objects in form of building complexes and sculptures. Analysis techniques utilized in this research are factor analysis, multi-criteria evaluation, cluster analysis and t-test. Preliminary variables utilized in this research are cultural significance parameters called theoretical variables. These theoretical variables then were extracted using factor analysis in to 3 factors. The results of this research are the cultural signification level of every object and clustering of objects that form 6 cluster based on their cultural signification attributes. As the result using t-test, it was proved that development of clusters has relationship with cultural significance level of each objects, so the model proposed by cluster analysis then can be utilized to explain pattern of cultural significance attributes of each objects.
Keywords: – Cluster, Factor, Preservation, Urban History

REFERENCES
[1] Taufik, et al, History of Blitar (Government of Blitar Municipality, 2008).

[2] Martokusumo, Urban heritage conservation in Indonesia, Proc in The Indonesian city revisited, Institute of Social and Cultural Studies, Faculty of Social and Behavioural Sciences, Rijksuniversiteit Leiden,The Netherlands, 6-8 December, 2000.

[3] Martokusumo, Conservation of urban environment (ITB Press, Bandung. 2005)

[4] ICOMOS. The burra charter (Australia ICOMOS incorporated 2000, ISBN 0957852800, 1999)

[5] Indonesian network for heritage conservation and ICOMOS Indonesia, Indonesia charter for heritage conservation (Center for heritage conservation, department of architecture and planning, Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia, 2003)

[6] Siregar, et al. 2010, Cultural significance factors determination of indonesian independence historical area in Blitar city, Proc national seminar of magister and doctoral program, engineering faculty, University of Brawijaya, Indonesia, 2010.

[7] Al-hagla, Sustainable urban development in historical areas using the tourist trail approach, Elsevier Cities Journal 27 (2010), 234–248.

[8] Ruiters and Sanders, Physical planning: policies, methods and techniques (Faculty of civil engineering, Delft University of Technology, The Netherlands, 1998)

[9] Afandi, Antariksa and Hariyani, Preservation of PETA headquarter in Blitar city, Graduate theses, University of Brawijaya, 2008

[10] Adeniran and Akinlabi, Perceptions on cultural significance and heritage conservation: a case study of Sussan Wenger’s building, Osogbo, Nigeria, African Journal of History and Culture Vol. 3(5), pp. 73-88, June 2011

[11] Avrami, Mason and Torre, Value and heritage consevation, research report., The Getty Conservation Institute, Los Angeles, 2009

Makalah ini telah dipublikasi secara internasional dalam IOSR Journal of Engineering (IOSRJEN)
ISSN: 2250-3021 Volume 2, Issue 8 (August 2012), PP 16-22, dan dapat diakses dengan klik link atau copy-paste link di bawah ini ke browser.

http://www.iosrjen.org/pages/volume2-issue8(part-1).html


For more informations, please visit : http://ubrawijaya.academia.edu/JohannesParlindungan

CULTURAL SIGNIFICANCE DETERMINATION AS PRELIMINARY ANALYSIS

Categories: ARTIKEL Tags:

PERWUJUDAN RUANG PUBLIK PERKOTAAN

Oleh : Johannes Parlindungan Siregar, ST., MT.
Email : johannes@ub.ac.id

SIFAT RUANG PUBLIK
Dalam struktur ruang perkotaan, dikenal konsep ruang publik. Sesuai dengan istilah yang dipergunakan yaitu kata “publik”, ruang ini merupakan wadah bagi masyarakat untuk melaksanakan aktivitas yang sifatnya terbuka atau open access bagi semua lapisan masyarakat. Secara konseptual, ruang publik ini memiliki fungsi sebagai ranah yang me-manusia-kan masyarakat. Konsep the third place menjelaskan bahwa ruang publik berperan sebagai mediasi antara ranah domestik dengan ranah bekerja (Carmona, et al. 2003). Di ranah bekerja, manusia melaksanakan rutinitas berprofesi secara privat dalam suasana yang kompetitif. Kondisi ini mendorong tumbuhnya sifat soliter dan individualistik. Sementara itu di ranah domestik, manusia akan meninggalkan kehidupan kompetitif dan beralih ke kehidupan privat bersama keluarga dalam wujud isolated nuclear family. Ruang publik sebagai mediasi berperan untuk membawa manusia keluar dari kehidupan privat menuju kehidupan sosial dengan berinteraksi bersama manusia lainnya yang tidak dia kenal. Pola interaksi yang terjadi secara informal ini dilaksanakan dalam kesukarelaan (voluntary), dengan beberapa kualitas, antara lain :
• Bebas untuk masuk ke ruang publik tanpa ada format keanggotaan (open access).
• Dapat datang dan pergi sesukanya.
• Ruang publik tetap dibuka selama dan di luar jam kerja.
• Memiliki karakter rekreatif.
• Memberi kenyamanan psikologis.
• Dapat menjadi mimbar politik.
• Low profile.

PERWUJUDAN RUANG PUBLIK
Ruang dapat diibaratkan seperti sebuah mangkuk yang akan mewadahi sesuatu. Desain mangkuk ini tentu harus sesuai dengan benda karakteristik benda yang akan wadahi. Dengan demikian, ruang publik yang akan dibentuk mendukung kontinuitas kegiatan publik dengan beberapa karakterisitk di atas. Carr, et al dalam Carmona, et al (2003, p.165) mengungkapkan beberapa kualitas yang harus dimiliki ruang publik agar dapat berperan sesuai fungsinya, antara lain :
• Meaningful, dimana ruang publik harus memungkinkan manusia sebagai pengguna ruang untuk membuat hubungan (koneksi) yang kuat antara ruang / place dengan kehidupan mereka dan dunia yang lebih luas. Dengan kata lain, ada sistem pemaknaan dalam ruang publik.
• Democratic, dimana ruang publik harus dapat diakses oleh siapa saja dan menjamin kebebasan dalam beraktivitas. Carmona, et al (2008, p.24) menguraikan bahwa aksesibilitas antara lain mencakup kemudahan akses ke lokasi dan kemudahan pergerakan di dalam ruang.
• Responsive, dimana ruang publik harus tanggap atau mampu memenuhi kebutuhan warga yang terwujud dalam desain fisik dan pengelolaannya


Sumber : http://www.pps.org/articles/grplacefeat/

Lebih lanjut lagi, ada 5 kebutuhan dasar yang harus terpenuhi ketika warga mempergunakan ruang publik, antara lain :
1. Kenyamanan (comfort).
Kenyamanan merupakan persyaratan utama keberhasilan ruang publik yang dapat diukur dari lama orang / pengguna tinggal dan beraktivitas. Beberapa elemen yang mempengaruhi kenyamanan antara lain :
• Faktor lingkungan (angin, sudut datang sinar matahari, dan lain sebagainya).
• Kenyamanan fisik (ketersediaan perabot lansekap, dan lain sebagainya).
• Kenyamanan sosial dan psikologis (ketenangan suasana, dan lain sebagainya).
Carmona, et al (2008, p.24) menguraikan bahwa kenyamanan (comfortability) diindikasikan dengan kenyamanan pengguna untuk menghabiskan waktu di ruang publik yang didukung oleh beberapa kondisi, antara lain : bebas dari lalu lintas dengan intensitas yang tinggi, bebas dari kebisingan kendaraan bermotor, bebas dari gangguan kegiatan industri, penyediaan perabot jalan yang memadai, penyediaan tempat istirahat, toilet umum, kejelasan penanda lingkungan (signange) dan pelingkupan ruang yang jelas.
2. Relaksasi (relaxation).
Kenyamanan mendukung terciptanya suasana relaksasi, yang secara fisik terwujud baik melalui penataan elemen alami (pohon, badan air, dan lain sebagainya) maupun pemisahan spasial antara jalur kendaraan bermotor dengan jalur pejalan kaki.


Sumber : http://www.pps.org/articles/grplacefeat/

3. Penggunaan secara pasif (passive engagement).
Penggunaan pasif yang dilakukan oleh pengguna ruang publik adalah mengamati lingkungan. Setting spasial ruang publik harus memungkinkan pengguna untuk berhenti bergerak dan menikmati suasana yang didukung oleh perabot lansekap yang memadai. Beberapa objek dapat ditambahkan untuk memberi point of interest seperti sculpture, air mancur, wahana kesenian, dan lain sebagainya. Adanya kegiatan pasif ini merupakan perwujudan konkrit dari relaksasi.
4. Penggunaan secara aktif (active engagement).
Interaksi secara aktif terjadi di ruang publik dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang secara langsung melibatkan pengguna ruang dengan latar belakang yang berbeda. Interaksi yang terjadi dalam bentuk komunikasi antar pengguna ini dapat terjadi secara spontan maupun dengan stimulus yang disebut tringulasi (Carmona et al. 2003, p.167). Stimulus eksternal ini mendorong terbentuknya keterhubungan (linkage) antar pengguna ruang yang secara fisik terwujud dalam seni instalasi lansekap, sculpture, kegiatan kesenian publik dan lain sebagainya. Objek-objek ini akan menjadi topik komunikasi dan merangsang atau menjadi alasan bagi seseorang untuk berbicara dengan orang lain baik yang ia kenali maupun orang asing. Menurut PPS.Org, ada beberapa kriteria yang harus dicapai, antara lain :
• Ada banyak aktivitas publik yang dapat dilaksanakan dimana setiap orang dapat berpartisipasi.
• Ada keseimbangan yang baik antara partisipan pria dan wanita, dimana wanita memiliki kebutuhan ruang yang spesifik).
• Akses tidak dibatasi oleh usia.
• Ruang dapat dipergunakan sepanjang hari.
• Ruang harus kondusif untuk tempat berkumpul warga secara berkelompok dan menghindari dari adanya pemakaian ruang oleh warga secara tunggal (single person).
• Didukung oleh pengelolaan yang baik.


Sumber : http://www.pps.org/articles/grplacefeat/

5. Petualangan / keanekaragaman fitur (discovery).
Pengalaman ruang yang beragam akan meningkatkan ketertarikan orang untuk terlibat di suatu ruang publik. Pengalaman ruang ini dapat terwujud berupa desain lansekap yang unik, penampilan panorama alami yang menarik, pertunjukan kesenian, kios dan lain sebagainya.

Kelima kebutuhan dasar ini dapat dijadikan acuan dalam melakukan penataan ruang publik. Kenyamanan, relaksasi, kegiatan pasif, aktif dan keanekaragaman fitur kemudian harus diterjemahkan dalam perwujudan spasial secara fisik. Dengan dibarengi oleh pengelolaan ruang berbasis kemasyarakatan, ruang publik kemudian dapat berkembang secara optimal serta berperan sebagai buffer dalam kegiatan produktif dan domestik warga.

REFERENSI

Carmona, et al. 2003. Public Places, Urban Spaces. Architectural Press.

Carmona, et al. 2008. Public Space: The Management Dimension. The Taylor & Francis e-Library.

…….. What Makes a Successful Place? PPS.Org.

Categories: ARTIKEL Tags: