Home > HUMANIORA > BENARKAH PERSATUAN ITU INDAH ? (Belajar mengenai makna Persatuan dari konsep Arsitektur)

BENARKAH PERSATUAN ITU INDAH ? (Belajar mengenai makna Persatuan dari konsep Arsitektur)

Indonesia adalah negara Bhineka Tunggal Ika yang kira-kira artinya memiliki keberagaman dalam keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Sebenarnya, apa maknanya? Mengapa kita harus hidup beragam dan apa kenikmatan yang terkandung dalam keberagaman itu? Kemudian yang lebih penting lagi, apakah hidup dalam keberagaman menjanjikan kehidupan yang lebih baik?

Berbicara mengenai persatuan, saya teringat dengan petuah dosen S1 Arsitektur saya yaitu Dr Galih Widjil Pangarsa. Beliau pernah mengatakan bahwa inti dari perancangan arsitektur adalah bagaimana merancang ruang transisi. Ruang antara ini adalah ruang yang menghubungkan ruang publik dan ruang privat (konsep dasar ruang dalam arsitektur). Petuah yang sederhana ini sangat mendalam dan sesungguhnya cukup sulit dipraktekkan (bukan berarti tidak bisa). Saya memahami teori ini sebagai suatu usaha atau konsep untuk menyatukan dua dunia yang berbeda dan keindahan yang hakiki terpancar dari keberhasilan penyatuan ini.

Penyatuan dua atau beberapa elemen yang berbeda membutuhkan pemahaman yang advance mengenai sifat, karakter dan kebutuhan elemen-elemen yang hendak disatukan itu. Tidak jarang banyak desainer yang mengabaikan keperbedaan itu dan melarikan diri dengan membangun konsep perancangan yang mengutamakan single form for single use. Hasilnya, sudah jelas, arsitektur modern mengalami banyak penolakan karena tidak mampu mengakomodir keberagaman masyarakat. Selain itu, teknik artikulasi yang baik sangat diperlukan. Artikulasi merupakan ujung tombak penyatuan elemen-elemen yang beragam ini.

Eko A. Prawoto (1999) dalam kurasi tulisannya menguraikan dengan sangat baik konsep ‘mahakarya’ Romo Mangunwijaya yang salah satunya membahas mengenai artikulasi. Artikulasi atau sederhananya disebut sambungan (joints) merupakan seni untuk menghubungkan elemen yang berbeda seperti material atau ruang dalam suatu keutuhan yang disebut kebenaran. Dalam artikulasi ini terjadi kondisi dialogis antar elemen secara harmonis yang secara ‘telanjang’ memperlihatkan riwayat suatu karya. Dalam pengartikulasian ini, sang perancang ditantang untuk mengungkapkan kebenaran yang diinterpretasikan sebagai ‘ketelanjangan’ atau kejujuran dengan tidak menutupi menutupi atau mengaburkan keharmonisan yang terpancar dalam artikulasi.

Sadarkah kita bahwa persatuan dan kesatuan hanya dapat terjadi apabila ada beberapa atau banyak elemen yang berbeda. Bila tidak ada perbedaan, buat apa kita memupuk persatuan. Dan kondisi ini sungguh statis serta tidak manusiawi seperti yang dilakukan imperialis saat memangkas keperbedaan demi mewujudkan hagemoni dirinya.

Dalam peradaban manusia, pergesekan sering terjadi dalam usaha artikulasi keberagaman masyarakat ini. Imperialisme menerapkan konsep artikulasi ini dengan cara yang kasar serta tidak manusiawi dan tindakan ini dilakukan berdasarkan motif kekuasaan dengan segala konsep ‘kebenaran’ yang mereka pahami. Imperialisme NAZI saat melakukan pembantaian (holocaust) kaum Yahudi merupakan contohnya. Dengan berjalan di atas konsep ‘kebenaran’ bahwa ras aria adalah ras terunggul, maka NAZI merasa perlu melakukan ‘pemurnian’ dengan membantai kaum Yahudi. Tetapi, artikulasi yang baik juga dapat terjadi saat Mahatma Gandhi berusaha mempersatukan masyarakat India dalam menentang penjajahan Inggris. Dalam tindakannya, Mahatma Gandhi menanamkan konsep penyatuan dengan mencintai tanah air agar masyarakat India yang terdiri dari beragam ras, agama dan kasta dapat bersatu membebaskan diri dari kapitalisme penjajah.

Bagaimana dengan bangsa kita? Keberagaman di negara kita telah tercermin dalam peradaban sejak dahulu kala. Sebagai contoh kecil adalah kebudayaan masyarakat betawi yang mengandung elemen-elemen dari berbagai etnis seperti etnis pribumi, melayu, Arab maupun Tionghoa. Bhineka Tunggal Ika yang tertulis pada lambang NKRI menunjukkan bahwa kesadaran mengenai keberagaman ini sesungguhnya sudah mendarah daging sejak lama. Hingga saat ini pun, keberagaman ini tidak dapat dielakkan karena kondisi dialogis antara elemen ini sudah sangat mengakar.

Meskipun begitu, mengapa saat ini muncul bibit-bibit ketakutan mengenai keberadaan masyarakat yang beragam ini. Bibit-bibit ketakutan ini dapat diidentifikasi dengan menjamurnya partai-partai politik yang mengusung ideologis atau semangat keagamaan tertentu. Sebenarnya ini bisa dipandang sebagai sebuah keprihatinan tatkala masyarakat mulai meragunakan konsep nasionalisme dalam ke-Bhineka Tungal Ika-an. Atau masyarakat mulai mencari-cari konsep baru ? kita juga dapat menyimak di media massa mengenai kelompok-kelompok yang berusaha menanamkan ideologi mereka ke masyarakat secara politis maupun melalui intimidasi kekerasan dan pihak pemerintah terlihat tidak dapat berbuat apa-apa. Apakah ini salah satu bentuk imperialisme baru selain imperialisme kapitalis ekonomi?

Pada akhirnya, bangsa diuji untuk lebih mendalami makna persaudaraan di tengah keberagaman ini dan tampaknya hati nurani masyarakat mulai berbicara. Masyarakat mulai menolak tindakan-tindakan represif dalam penanaman ideologi kelompok tertentu. Tampaknya proses yang menyakitkan harus dijalani agar bangsa ini dapat memahami petuah para manusia bijak dalam mambangun keharmonisan.

Penulis teringat dengan kejadian mengharukan saat Kebaktian Natal Korpri yang diadakan kira-kira tahun 2003 yang lalu saat kelompok Syalawat menyanyikan lagu Havanagilla dan Syallom Alecheim. Sangat bahagia saat kita duduk bersama dan memahami bahwa keberagaman hadir untuk dinikmati dalam keharmonisan. Mungkin ini yang dimaksud dengan hidup dalam Perdamaian dan Kasih.

Categories: HUMANIORA Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*